Rabu, 19 September 2012

elegi pagi

menunjuk langit sempurna
langit milik sang Maha Sempurna
terpana menembus raga
terpesona seiring getaran jiwa

aku teriakan kata-kata
tak ramah ditelinga
aku tak bisa bersastra
aku tak kuat menahan rasa

sebentuk lukisan wajah terlihat samar di sana
tersenyum kepada walupun terlambat
tapi aku mencoba membalasnya dengan senyum yang sedikit aku paksa
ada rasa yang menggila di dalam dada

aku aku aku....
lidahku kelu membeku
bibirku mebiru kaku
nafasku memburu

engkau sebentuk lukisan
dari dalam ingatan
dari dalam mimpi
dalam kenyataan kau akan selau ku sayangi....

untukmu utami
merinduku tak kan lagi
sukmaku sekarang menyatu
denganmu sampai tak ada lagi aku...

19 sepetember 2012
dalam memori elegi pagi

melukis dari mimpi

melukis melalui mimpi
merajut benang yang tak berkaki
seperti bunga mekar di pagi hari
jangan kau lihat karena ia tak mau untuk kau nikmati

bunga mawar semerbak mewangi
3 lilin kecil di taman hati
menyisir langit yang tak bermentari
sampai ujung tiba wktuku mati...

Selasa, 24 Juli 2012

Diam Tak Melawan

sudah aku lakukan tuan
tapi masihkah ada yang kurang?
kenapa tuan selalu memberikan bentakan
padahal diamku adalah karena aku tak bisa mengungkapkan

tuan,
memang enteng saat kau berkata
lantang,
kau ucap kebenaran

tapi semua itu bohong
kau tipu kami
seruanmu bak cerobong
keluar tak henti tapi tak ada yang mau menikmati

bayu, Surakarta 25 Juli 2012

Selasa, 10 Juli 2012

BERJUMPA PULA


Oh kau kiranya, bertemu pula
Setelah 15 tahun kita berpisah
Janganlah gugup. Sudahkah sembuh luka hatimu?
Di aku sudah! Tapi payah aku melipur jejaknya
Parutnya masih berkesan di dadaku
15 tahun, bertemu pula
Setelah kita lalui jalan hidup masing-masing
Maafkan daku. Bersiapakah aku mestinya
Adinda, kekasih, juwita yang pernah kuucapkan di mukamu dulu
Atau dalam surat-surat yang pernah kukirimkan
Tidak ‘kan kuucapkan lagi
Aku takut,
Obat lekat pantang terlampau
Kembali penyakit lama
–Ah, tidak; Aku mulai tua
15 tahun
Sudah berapakah anakmu
Adakah suamimu sehat saja
Beruntung dalam rumah tangga
–Tak usah gugup!
15 tahun
Melihat kau sekarang, kuteringat kau yang dulu
Kau yang ada dalam kenanganku
Kau yang tergambar dalam hatiku
Aku teringat
Mudaku dan mudamu
Semasa kita masih menyangka, alam boleh sekehendak kita
Padahal: Takdir tak mengizinkan kita bertemu
Hidup kita tak dapat dipadu menjadi satu
Kau mengambil jalanmu sendiri – terpaksa atau tidak
Dan aku pun
Mengambil jalanku pula
15 tahun
Aku telah berjalan, dan berjalan jua
Tapi dalam sudut hatiku, kau telah menjadi pelita yang hidup
Kaulah pelitaku
Tanglongku
Dalam kegelapan malam yang senyap sunyi
Sehingga aku menjadi aku
Walaupun kau tak merasa. Barangkali
15 tahun
Tertawa aku, tertangis aku
Tersenyum tersedu
Mendaki ku menurun
Melereng ku mendatar
Pernah kunaik, pernah kujatuh
Jatuh dan bangkit lagi, lalu berjalan jua
Sahaja mati yang belum kurasai
Sehingga aku menjadi aku
Dan perjumpaan kita, 15 tahun yang telah lalu
Adalah pendorong perjuangan hidupku
Hari ini
Setelah 15 tahun
Kitapun berjumpa pula
Aku dengan engkau
Kau yang sekarang
Maka teringatlah aku. Kau yang dulu
Kalau bukan lantaran kau yang dulu
Tentulah air mataku tidakkan titik ke bumi
Garam hidupku yang kulalui
Air mata itulah yang kususun kembali
Sesudah dia jatuh berderai bagai manik putus pengarang
Kujadikan gubahan buat kau. Kau yang dulu
Sehinggaku menjadi Aku
15 tahun…
Alangkah cepatnya putaran zaman
Wahai orang yang sekian lama terlukis di sudut hatiku
Jangan engkau salah terima, Wahai kau yang sekarang
Sekiranya aku melihat tenang. Merenung wajahmu
Izinkanlah sejenak, aku mencari, mencari
Aku ini kehilangan
Dia. Dia akan kucari dalam ruang matamu
Kau yang dulu
Berjalan lurus, dan teruslah
Pikullah kewajiban yang telah ditentukan Tuhan
Buat kau. Dan aku pun
Meneruskan jalanku pula
Berjalan dan berjalan jua
Mendatar, melereng, mendaki dan menurun
Kau lihat. Rambut putih telah mulai berjuntai di ubun-ubunku
Kau lihat. Tiga garis telah mulai ada di keningku
Alamat, sengitnya perjuangan yang telah kutempuh dulu dan kuhadapi lagi
Marilah sama-sama, meneruskan perjalanan
Melaksanakan hayat
Jauh… dan jauh lagi
Hanya sebuah harapanku tinggal
Semoga usia sama panjang
Dapat berjumpa pula 15 tahun yang akan datang
Mau atau tidak mau
Kau… dan aku….
(Buya Hamka)

HANYA HATI



Gajiku kecil
Pencaharian lain tak ada
Kicuh buku aku tak tahu
Korupsi aku tak mahir
Berniaga aku tak pandai
Kau minta permadani
Padaku hanya tikar pandan
tempat berbaring tidur seorang
Kau minta tas atom
Padaku hanya kampir Matur
Kau minta rumah indah
Perabot cukup
Lihatlah! Gubukku tiris
Kau minta kereta bagus
Aku hanya orang kecil
Apa dayaku
Kekayaanku hanya satu, dik
Hati
Hati yang luas tak bertepi
Cinta yang dalam tak terajuk
Hamka.Bukittinggi, 1948
(Sumber: Buku “Kenang-Kenangan Hidup”, 1975)

Nikmat Hidup

 

Setelah diri bertambah besar
di tempat kecil tak muat lagi,
Setelah harga bertambah tinggi
orang pun segan datang menawar,
Rumit beredar di tempat kecil
kerap bertemu kawan yang culas,
Laksana ombak di dalam gelas
diri merasai bagai terpencil,

Walaupun musnah harta dan benda
harga diri janganlah jatuh,
Binaan pertama walaupun runtuh
kerja yang baru mulailah pula,

Pahlawan budi tak pernah nganggur
khidmat hidup sambung bersambung,
Kadang turun kadang membumbung
sampai istirehat di liang kubur,

Tahan haus tahanlah lapar
bertemu sulit hendaklah tengang,
Memohon-mohon jadikan pantang
dari mengemis biar terkapar,

Hanya dua tempat bertanya
pertama tuhan kedua hati,
Dari mulai hidup sampai pun mati
timbangan insan tidaklah sama,

Hanya sekali singgah ke alam
sesudah mati tak balik lagi,
Baru rang tahu siapa diri
setelah tidur di kubur kelam,

Wahai diriku teruslah maju
di tengah jalan janganlah berhenti,
Sebelum ajal, janganlah mati
keredhaan Allah, itulah tuju,

Selama nampak tubuh jasmani
gelanggang malaikat bersama setan,
Ada pujian ada celaan
lulus ujian siapa berani,

Jika hartamu sudah tak ada
belumlah engkau bernama rugi,
Jika berani tak ada lagi
separuh kekayaan porak peranda,

Musnah segala apa yang ada
jikalau jatuh martabat diri,
Wajah pun muram hilanglah seri
ratapan batin dosa namanya,

Jikalau dasar budimu culas
tidaklah berubah kerana pangkat,
Bertambah tinggi jejang di tingkat
perangai asal bertambah jelas,

Tatkala engkau menjadi palu
beranilah memukul habis-habisan,
Tiba giliran jadi landasan
tahanlah pukulan biar bertalu,

Ada nasihat saya terima
menyatakan fikiran baik berhenti,
sebablah banyak orang membenci
supaya engkau aman sentosa,

Menahan fikiran aku tak mungkin
menumpul kalam aku tak kuasa,
Merdeka berfikir gagah perkasa
berani menyebut yang aku yakin,

Celalah saya makilah saya
akan ku sambut bertahan hati,
Ada yang suka ada yang benci
hiasan hidup di alam maya


............HAMKA..........

Puisi HAMKA untuk Perjuangan M.Natsir



Meskipun bersilang keris di leher
Berkilat pedang di hadapan matamu
Namun yang benar kau sebut juga benar
Cita Muhammad biarlah lahir
Bongkar apinya sampai bertemu
Hidangkan di atas persada nusa
Jibril berdiri sebelah kananm
Mikail berdiri sebelah kiri
Lindungan Ilahi memberimu tenaga
Suka dan duka kita hadapi
Suaramu wahai Natsir, suara kaum-mu
Kemana lagi, Natsir kemana kita lagi
Ini berjuta kawan sepaham
Hidup dan mati bersama-sama
Untuk menuntut Ridha Ilahi
Dan aku pun masukkan
Dalam daftarmu……!