Rabu, 19 September 2012

elegi pagi

menunjuk langit sempurna
langit milik sang Maha Sempurna
terpana menembus raga
terpesona seiring getaran jiwa

aku teriakan kata-kata
tak ramah ditelinga
aku tak bisa bersastra
aku tak kuat menahan rasa

sebentuk lukisan wajah terlihat samar di sana
tersenyum kepada walupun terlambat
tapi aku mencoba membalasnya dengan senyum yang sedikit aku paksa
ada rasa yang menggila di dalam dada

aku aku aku....
lidahku kelu membeku
bibirku mebiru kaku
nafasku memburu

engkau sebentuk lukisan
dari dalam ingatan
dari dalam mimpi
dalam kenyataan kau akan selau ku sayangi....

untukmu utami
merinduku tak kan lagi
sukmaku sekarang menyatu
denganmu sampai tak ada lagi aku...

19 sepetember 2012
dalam memori elegi pagi

melukis dari mimpi

melukis melalui mimpi
merajut benang yang tak berkaki
seperti bunga mekar di pagi hari
jangan kau lihat karena ia tak mau untuk kau nikmati

bunga mawar semerbak mewangi
3 lilin kecil di taman hati
menyisir langit yang tak bermentari
sampai ujung tiba wktuku mati...